Life · Thoughts

Sepuluh Tahun

Aku mengambil gelas stainless di hadapanku, membuka tutupnya, beberapa tegukan teh manis hangat. Uap panas dari dalam gelas membuat titik-titik di tutupnya, aku memutar-mutar tutup gelas di tanganku, berusaha mengumpulkan semua titik uap itu menjadi satu.

Ini hari Sabtu, sudah tengah hari, masih di tempat kerja.

Pikiran selalu seperti kangguru, lompat kesana kemari. Sebentar disaat ini, sebentar kemarin, sebentar 2 hari yang lalu, sebentar semalam, sebentar ke masa yang akan datang, sebentar terlempar ke 12 tahun yang lalu. Pada akhirnya aku malah merangkum sepuluh tahun terakhir. Tentang bagaimana dalam jangka waktu 10 tahun banyak hal yang bisa berubah. Lucu sekali betapa banyak hal bisa berubah sedemikian rupa tapi ada juga yang masih tetap sama. Pekerjaan, tempat tinggal, pakaian, kendaraan, saldo ATM dan bahkan pasangan bisa berbeda sekali dalam waktu 10 tahun.

Salah satu yang sulit berubah adalah manusia. Bukan tidak sama sekali, bisa saja, hanya saja beberapa watak memang rasanya begitu mendarah daging. Sepuluh tahun itu bukan waktu yang sebentar, tapi tidak tepat juga dikatakan lama; rasanya benar lama atau tidaknya waktu yang berlalu itu relatif, tidak bisa sama untuk semua orang walau semuanya sama-sama memiliki 24 jam setiap hari, 7 hari seminggu. Aku rasa sepuluh tahun waktu yang cukup untuk mengubah karakter, cara bicara, atau bahkan pemikiran seseorang. Dengan catatan perubahan itu memang terjadi; karena tidak semua orang mengalami perubahan-perubahan itu dalam waktu sepuluh tahun kecuali fisik. Entah kata siapa “Kita semua cepat menjadi tua tetapi lambat menjadi bijaksana”.

Kita semua tidak dapat menolak menua, tapi untuk menjadi lebih baik selalu merupakan pilihan. Meski rasanya aku paham sekali terus berproses menjadi lebih baik itu sulit sekali. Ada masa-masa aku bertanya-tanya apakah ini sudah diriku versi yang terbaik, sudah maksimalkah? Mungkinkah menjadi lebih baik dari saat ini? Dan aku tahu pasti jawabannya selalu “mungkin”, walau rasanya tidak mungkin; tapi toh aku tidak tahu pemahaman macam apa yang akan tertanam di benak sepuluh tahun dari sekarang.

Sepuluh tahun dari sekarang. Hah. Kadang-kadang aku ingin tertawa. Kalau masih ada umurku sepuluh tahun lagi, aku penasaran juga hidup seperti apa yang akan aku jalani waktu itu. Pada kenyataannya aku hanya ingin hidup yang damai, yang tenang. Lalu mereka mencemooh, “Hidup macam apa itu? Tidak menarik. Monoton. Tidak seru. Tidak menantang.” Sebenarnya yang membuat hidup ini terasa begitu menjenuhkan bukan tantangannya atau keseruannya, tapi tujuan. Hidup tanpa tujuan itu rasanya seperti mengambang, mengawang, tidak jelas. Dan mungkin menyakitkan. Setidaknya itu menurutku. Kadang-kadang hidup ini terasa melelahkan sekali padahal kita belum berbuat apa-apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s