Conversation · Friendship · Life · Love · Thoughts

Pitter-Patter – Petrichor

Memasuki bulan Mei di tahun 2020. Aku sudah tidak menghitung sudah berapa belas bulan terlewati sejak waktu itu. Rasanya naik turun seperti roller coaster kalau katamu. Sudah beberapa malam hujan mengguyur kota ini. Aku senang. Bukankah aku tidak pernah membencinya sepenuh hati? Hujan selalu menyenangkan dan menenangkan walau sesekali menyebalkan. Bahkan hujan deras dengan angin kencang maupun gemuruh tetap memberikan perasaan tenang kepadaku, tentu saja dengan tambahan was-was.

Seperti malam-malam lalu, hujan kembali turun membasahi kota ini. Tidak terlalu deras, tidak terlalu berangin, dan tidak ada gemuruh, yang kutangkap hanya pitter patter, petrichor, dan udara yang dingin khas ketika hujan turun. Menyenangkan. Menenangkan. Entah kenapa rasanya aku cukup sensitif dengan hujan, bahkan terkadang tanpa menoleh aku bisa menebak di luar sedang hujan. Mungkin tubuhku sudah hapal dengan udara dan bau yang muncul setiap kali rintik hujan mulai berlomba turun membasahi tanah.

Televisi di ruang tamu menyala tapi belum ada yang menonton, aku sedang menghapus email-email tidak penting dan kau sedang berisik di dapur. Beberapa menit kemudian kau muncul dari dapur dengan 2 gelas susu hangat dan 2 tangkup roti dengan selai cokelat padahal ini sudah pukul setengah sebelas malam.

“Kir,” panggilmu dengan mulut yang masih sibuk mengunyah roti dan mata yang tertuju pada televisi. Aku tidak menjawab, menunggu kalimat selanjutnya.

“Kir,” panggilmu lagi menuntut responku tapi tetap tidak menoleh sedikitpun ke sini.

“Hm?”

How’s life?”

“Kau nggak punya pertanyaan yang lebih kreatif?”

“Loh, ini pertanyaan basa basi busuk standar yang bisa dijawab dengan berbagai cara, lho.”

“Kau mau aku jawab apa?”

“Ya, how’s life? How’s your life? Dengan situasi belakangan ini. We’re stuck at home, at work because of this covid19 thing. You’re not stressed?

Nope. I’m good.”

“Kok bisa?”

“Apanya yang kok bisa?”

“Ya begitu. Nggak stres.”

Email-email ini banyak sekali, padahal aku sudah menghapus ratusan. “Mau diapain lagi? Keadaannya begini, kenyataannya begini. Stres juga nggak berguna, nggak membantu, hal yang paling masuk akal buat dilakukan sekarang ya diterima dulu keadaannya.”

“Lalu?”

“Lalu ya melanjutkan hidup kayak biasa, tapi aktivitas kita disesuaikan lagi. Kurangi atau stop nongkrong-nongkrong nggak jelas. Kebersihan lebih diperhatikan lagi, daya tahan tubuh juga. Ikuti aja anjurannya. Kalau masalah ekonomi aku juga nggak bisa berkomentar banyak. Kalau kita bisa bantu ya bantulah mereka yang kesulitan di masa-masa ini.”

Kau diam lama, aku tetap sibuk menyortir email. 200an. 100an. Sisa 19 email. Selesai. Tepat saat aku akan menyandarkan punggungku kau kembali bersuara, kau ini bisa lihat tembus laptopku atau bagaimana.

“Aku ingat tahun lalu kau masih emosional dalam banyak hal, termasuk dalam menyikapi perubahan, mengenai apapun.”

Aku berpikir sejenak dan menghela napas panjang sebelum menjawab pernyataanmu itu. “Hmm… Ya… Sebenarnya masih ada juga sisi itu. Tapi sekarang-sekarang ini aku sedang mencoba mengontrol diri. Lebih ke… Apa ya… Belajar ikhlas? Belajar ikhlas menerima segala sesuatu. Karena kadang-kadang banyak hal yang di luar kuasa kita, semakin dilawan malah rasanya semakin menyakitkan dan menyiksa. Jadi ya aku belajar menerima, lalu mengikhlaskan yang harus diikhlaskan.”

“Termasuk perkara dendam?”

“Oh. Wow. Hahaha… Yang itu masih lama kayaknya perjalanannya.”

“Cinta?”

“Proses.”

“Proses? Mengikhlaskan yang harus diikhlaskan? Nggak berjuang dong?”

“Sebenarnya..” Aku meneguk setengah gelas susu sebelum melanjutkan, “Berjuang itu apa sih? Bagaimana sih?”

“Ya…. berjuang. Berusaha. Mengejar?”

“Mengejar mati-matian orang yang mungkin nggak berminat ada dalam hidup kita? Cinta itu nggak bodoh, cuma orang-orang yang lagi jatuh cinta memang suka melakukan hal-hal bodoh kayaknya. Berjuang itu bagus, harus. Tapi aku pikir manusia memang harus mengenal kata cukup dalam hidupnya, untuk hal apapun, termasuk soal cinta-cintaan. Kita harus tau kapan waktunya berhenti.”

“Kau? Sudah waktunya berhenti?” Kau menoleh.

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. “Aku nggak mau bilang berhenti, dan mungkin belum mau berhenti. I’ll do my best. I want to try. But if in the end it’s not working, I just have to accept that maybe we’re not supposed to be together, and I’ll try my best to stop mention her in my prayer and let her go. Belajar ikhlas. Belajar melepas yang harus dilepas. Tapi, sampai saat itu tiba, I’ll give my best.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s